Sabtu, 21 Juli 2012

diam = jarak


Terus berjalan tanpa henti untuk meninggalkan yang terjadi saat ini. Dalam pikiran hanya ada kalimat “aku harus bisa menerima ini”. Berjalan truz dengan tetesan air mata yang semakin jauh, tetesan itu semakin banyak. Tak tau harus bagaimana? Tak tau harus berbuat apa? Kecewa sudah pasti tapi apa yang aku kecewakan aku pun tak mengerti.
Aku hanya mampu terus berjalan tak ingin sekalipun menoleh kebelakang. Tapi hati berkata lain aku masih ingin melihat sosok itu. Sosok yang benar-benar merubah pola fikirku tapi juga menyakitiku. Tak kala teringat dengan kejadian itu aku membencinya tapi tak mampu untuk membencinya.
Mencoba untuk bersikap biasa kala bertemu dengan sosok itu. Diam yang hanya bisa aku sajikan dihadapan dia setiap pertemuan itu terjadi lagi. Tak mau jadi lemah dihadapan sosok itu hanya karena tersakit olehnya. dia mungkin tak menyadari yang terjadi.
Dan sekarang Semakin jelas terlihat jarak dengan sosok itu. Pembatasan diri truz terjadi. Ini karena tak ingin saling menyakiti atau perlahan ingin menjauh?? Jawaban nya ada disosok itu. Sosok itu semakin kaku dan membuat aku semakin tak ingin menganggunya lagi. Sedikitpun tak berani untuk sekedar menyapanya. Sungguh benar-benar mencoba untuk mencari jarak aman. Tak tau hanya perasaanku saja atau dia merasakan nya juga?
Andai semua itu lumrah dilakukan, akan aku sampaikan semua keluh kesah ini. Tapi aku tak mampu untuk melakukannya. Terlalu berani untuk melakukan itu dan itu mungkin akan semakin memberi jarak yang sangat jauh. Aku tidak menginginkan itu. Aku masih ingin melihatnya sosok itu, senyum itu walaupun secara diam-diam.
Sosok itu yang aku yakini memberikan dampak baek pada ku. Walupun pada akhirnya membuatku selalu meneteskan air mata. Tapi aku tak sedikitpun menyesal walaupun aku hanya bisa mengenangnya dan melihatnya dari kejauhan.

Kamis, 19 Juli 2012

rasa ini


Tak hanya aku yang merasakan rasa ini. Tak hanya aq yang merasa sikap itu hanya buatku. Banyak yang merasakan itu.  Rasa ini sungguh menyesakkan dada. Tuhan menumbuhkan rasa ini pasti ada maksudnya tapi aku yang kurang begitu mengerti dengan rasa ini. Karena rasa ini aku menjadi kaku, karena rasa ini aku menjadi diam, dan karena rasa ini juga aku sering menangis.
Sesaat yang dirasakan tapi mempunyai makna bearti buatku. Aku yang terlalu berharap banyak atau emang harapan itu ada? Tak bisa dimengerti!!! Semakin aku mencoba biasa semakin aku larut dalam rasa yang tak menentu. Ada rasa ketidaksukaan atas perlakuannya tapi aku tetap biasa saja.
Untuk berharap ada rasa yang sama di dirinya aku tak berani lagi. Takut aku semakin tenggelam dalam rasa yang tak bakal ada ujungnya. Terlalu banyak orang  yang berharap lebih dari dia dan tak mungkin aku yang mendapatkan rasa yang sama itu. Mengubur rasa itu dalam-dalam hingga tidak mengecewakan ku itu yang bisa aku lakukan sekarang. Berharap tuhan mengizinkan rasa ini ada lagi kelak. Dan rasa ini tumbuh bersamaan dengan rasa didirinya. Tapi bila itu tak terjadi aku ikhlas aku tau tuhan bakal memasang aku dengan yang terbaek walaupun bukan dia….:)

Rabu, 07 Maret 2012

aku tidak mencintaimu

Mencintai seseorang bukan hal yang mudah.

Bagi sebagian orang, termasuk saya tentunya, mencintai orang merupakan proses yang panjang dan melelahkan."



Lelah ketika kita dihadapkan pada suatu keadaan yang tidak seimbang antara akal sehat dan nurani.

Lelah ketika kita harus menuruti akal sehat untuk berlaku normal meski semuanya menjadi abnormal.

Lelah ketika mata menjadi buta akibat dari perasaan yang membius tanpa ampun.

Lelah ketika imaginasi menjadi liar oleh khayalan yang terlalu tinggi.

Lelah ketika pikiran menjadi galau oleh harapan yang tidak pasti.

Lelah untuk mencari suatu alasan yang tepat untuk sekedar melempar sesimpul senyum atau sebuah sapaan "apa kabar…"

Lelah untuk secuil kesempatan akan sebuah moment kebersamaan.

Lelah untuk menahan keinginan untuk melihatnya..



Lelah dan lelah dan lelah..







Hanya sebuah sikap diam dan keheningan yang lebih saya pilih..



Diam menunggu sang waktu memberi sebuah moment.

Diam untuk mencatat segala yang terjadi.

Diam untuk memberi kesempatan otak kembali dalam keadaan normal.

Diam untuk mencari sebuah jalan keluar yang mustahil.

Diam untuk berkaca pada diri sendiri dan bertanya "apakah aku cukup pantas?"

Diam untuk menimbang sebuah konsekuensi dari rasa yang harus dipendam.

Diam dan dalam diam kadang semuanya tetap menjadi tak terarah..

Dan dalam diam itu pula, saya menjadi gila karena sebuah rasa dan pesona tetap mengalir..





Sayangnya, dalam keheningan dan diam yang saya rasakan,

lebih banyak rasa galau daripada sebuah usaha untuk mengembalikan pola pikir yang lebih logis.

Galau ketika mata terus meronta untuk sebuah sekelibat pandangan.

Galau ketika mulut harus terkatup rapat meski sebuah kesempatan sedikit terbuka.

Galau ketika mencintai menjadi sebuah pilihan yang menyakitkan

Galau ketika mencintai hanya akan menambah beban hidup

Galau ketika menyadari bahwa segalanya tidak akan pernah terjadi

Galau ketika tanpa disadari harapan terlanjur membumbung tinggi

Galau ketika semua bahasa tubuh seperti digerakan untuk bertindak bodoh.



Apakah mencintai seseorang senantiasa membuat orang bodoh? Tentu tidak.

Namun itu pula yang saya rasakan




Dalam kelelahan, diam dan kegalauan yang saya rasakan selama ini, ada rasa syukur atas berkat dari Sang Hidup atas apa yang saya alami.

Syukur ketika rasa pahit menjadi bagian dari mencintai seseorang.

Syukur ketika berhasil memendam semua rasa untuk tetap berada pada zona diam.

Syukur untuk sebuah pikiran abnormal namun tetap bertingkah normal

Syukur ketika rasa galau merajalela tak terbendung.

Syukur ketika rasa perih tak terhingga datang menyapa.

Syukur karena tak ditemukannya sebuah nyali untuk mengatakan "Aku mencintaimu"

Syukur ketika perasaan hancur lebur menjadi bagian dari mencintai.

Syukur ketika harus menyembunyikan rasa sakit dan cemburu dalam sebaris ucapan "aku baik – baik saja"

Syukur atas rahmat hari yang berantakan akibat rasa pedih yang teramat dalam.











Akhirnya, bagi saya, keputusan untuk mencintai melalui sebaris doa menjadi pilihan yang paling pantas.

Setidaknya, mencintai secara tulus melalui doa, dalam tradisi agama yang saya anut, akan menjadi lebih bermakna,

karena saya diteguhkan dus menjadi berkat atas segala rasa perih yang senantiasa ada didalam diri.

Dalam doa, akhirnya, semuanya kita kembalikan kepada Sang Hidup..





Bahwa terkadang akal dan perasaan campur aduk tak tentu arah.

Bahwa saya juga bukan manusia super..

Bahwa saya juga tidak bisa berlaku pintar sepanjang waktu, setiap hari.

Bahwa saya juga punya kebodohan yang kadang susah untuk diterima akal sehat.

Bahwa dengan segala kekurangan yang ada, saya berani mencintai..

Bahwa saya bersedia membayar harga dari mencintai seseorang..

Bahwa saya bersedia menanggung rasa sakit yang luar biasa..

Bahwa saya mampu untuk tetap hidup meski rasa perih terus menjalar..

Bahwa saya masih memiliki rasa takut akan kehilangan dalam hidup..





Dan hari ini, dari semua pembelajaran yang telah saya terima,

Berkembang menjadi sebuah bentuk KEPASRAHAN.

Sebuah Zona yang terbentuk karena saya merasa tidak berdaya.

Dimana saya merasa tidak memiliki kemampuan untuk membuat segalanya menjadi mungkin.

Dimana saya tidak berani untuk membangun sebuah harapan

Dimana saya tidak berani untuk mengatakan

"Aku mencintaimu, mari kita pastikan segalanya, dan semuanya, hanya untuk kita berdua saja"





Dan ini adalah pilihan terakhir yang saya miliki,

Mencintai dalam kepasrahan, tanpa berharap dan tanpa meminta.

Meski sangat susah dan hampir mustahil bagi saya untuk tidak mengingatnya.

Semoga saya bisa.





Dan hingga hari ini, saya masih mencintainya

Saya sadar hal itu akan memberi rasa perih yg teramat dalam

Karena bagi saya, lebih susah untuk tidak mencintainya.

Dalam perjalanan yang melelahkan, dalam diam dan keheningan

Dan tentunya dalam sebuah KEPASRAHAN yang teramat dalam.